Kemampuan untuk melakukan aktivitas ganda atau multitasking dalam bermusik merupakan sebuah pencapaian teknis yang sangat dikagumi di kalangan pelajar. Di SMAN 9 Jogja, fenomena siswa yang mampu mengekspresikan diri melalui vokal sekaligus memainkan instrumen musik bukanlah hal yang asing lagi. Kemampuan ini memberikan dimensi baru dalam sebuah pertunjukan, di mana seorang musisi tidak hanya mengandalkan suara, tetapi juga harmonisasi instrumen yang ia kendalikan sendiri. Namun, menyatukan koordinasi motorik tangan dengan kontrol pernapasan saat bernyanyi membutuhkan latihan yang sangat disiplin dan metode yang sistematis agar keduanya tidak saling mengganggu.
Langkah awal dalam cara menguasai teknik ini adalah dengan memisahkan penguasaan materi secara mandiri. Para siswa diajarkan untuk menghafal progresi akord pada gitar atau piano hingga ke tingkat memori otot. Artinya, tangan mereka harus bisa berpindah posisi tanpa perlu melihat instrumen secara terus-menerus. Di lingkungan sekolah ini, latihan biasanya dimulai dengan memainkan instrumen sambil melakukan percakapan ringan. Jika seseorang sudah bisa bermain musik tanpa terganggu oleh aktivitas berbicara, maka itu adalah pertanda bahwa otak sudah cukup rileks untuk mulai memasukkan unsur vokal yang lebih kompleks ke dalamnya.
Setelah instrumen dikuasai, tahap berikutnya adalah memasukkan melodi vokal secara bertahap. Di SMAN 9 Jogja, para mentor sering menyarankan untuk memulai dengan tempo yang sangat lambat. Fokus utamanya bukan pada keindahan suara terlebih dahulu, melainkan pada ketepatan ketukan antara petikan gitar atau tuts piano dengan suku kata yang dinyanyikan. Sering kali, pemula mengalami kendala di mana ritme tangan mengikuti ritme vokal, atau sebaliknya. Dengan menggunakan metronom, para siswa belajar untuk memisahkan kedua jalur motorik tersebut sehingga vokal bisa tetap mengalir dengan bebas di atas iringan instrumen yang stabil dan presisi.
Aspek teknis lainnya yang sangat diperhatikan adalah postur tubuh. Bernyanyi sambil bermain gitar sering kali membuat seseorang cenderung membungkuk untuk melihat senar, yang pada akhirnya akan menekan diafragma dan mengganggu produksi suara. Begitu pula saat bermain piano, posisi duduk yang terlalu tegang dapat menghambat resonansi vokal. Di sekolah ini, penggunaan penyangga gitar (strap) atau pengaturan tinggi kursi piano yang tepat menjadi perhatian utama. Siswa dilatih untuk tetap menjaga tulang punggung tegak dan dagu sejajar agar ruang resonansi di tenggorokan tetap terbuka lebar, meskipun tangan mereka sedang sibuk mengeksplorasi melodi di instrumen.