Setiap tahun, penetapan awal Ramadan dan Syawal selalu menjadi topik yang menarik untuk dibahas dari sudut pandang sains dan agama. Melalui edukasi astronomi, siswa SMAN 9 Jogja diajak untuk memahami fenomena langit secara empiris. Laboratorium fisika sekolah kini bukan hanya tempat untuk mempelajari gerak lurus atau hukum Newton, tetapi juga menjadi pusat observasi untuk memahami bagaimana bulan mengelilingi bumi dan bagaimana posisi hilal (bulan sabit muda) ditentukan sebagai penanda masuknya bulan baru dalam kalender Hijriah.
Dalam edukasi astronomi di tingkat SMA, siswa diperkenalkan pada dua metode utama: hisab dan rukyat. Hisab adalah metode perhitungan matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan, sementara rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal secara langsung. Dengan menggunakan teleskop laboratorium fisika sekolah yang memiliki kalibrasi tinggi, siswa dapat belajar melakukan pelacakan (tracking) benda langit. Praktik ini memberikan pengalaman nyata bahwa penentuan waktu ibadah dalam Islam memiliki landasan ilmiah yang sangat kuat dan presisi, melibatkan variabel seperti elongasi, ketinggian hilal, dan fraksi iluminasi bulan.
Pemanfaatan teleskop dalam edukasi astronomi juga membantu siswa membedakan antara hilal yang asli dengan benda langit lainnya seperti planet atau refleksi cahaya atmosfer. Siswa belajar menggunakan perangkat lunak planetarium digital untuk mensimulasikan posisi bulan sebelum melakukan pengamatan lapangan. Diskusi ini mempertemukan aspek ketaatan religius dengan objektivitas sains, di mana siswa diajarkan untuk menghargai perbedaan hasil ijtihad yang ada di masyarakat dengan kepala dingin dan pemahaman data yang akurat. Hal ini merupakan bagian dari pembentukan karakter siswa yang berwawasan luas.
Selain memahami kalender Hijriah, edukasi astronomi ini juga memicu minat siswa terhadap eksplorasi ruang angkasa yang lebih luas. Mengetahui bahwa fisika memiliki peran besar dalam menentukan jadwal puasa dan Idul Fitri membuat pelajaran di kelas terasa lebih kontekstual dan relevan. SMAN 9 Jogja berkomitmen untuk terus menghadirkan fasilitas yang mendukung literasi sains ini. Dengan memadukan teknologi teleskop dan kurikulum fisika, sekolah menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual yang berbasis pada pemahaman alam semesta yang diciptakan Tuhan secara teratur.