Di tengah pesatnya pembangunan infrastruktur di kawasan urban, lahan resapan air semakin berkurang. Hal ini sering memicu masalah serius, terutama saat musim penghujan tiba, di mana banjir genangan menjadi momok yang menakutkan bagi warga. Menjawab tantangan tersebut, Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) SMAN 9 Jogja melakukan eksperimen lapangan yang berfokus pada penerapan teknologi tepat guna berupa lubang resapan biopori. Inovasi ini dirancang khusus untuk memulihkan daya resap tanah di lahan yang sudah padat bangunan, sekaligus menjadi langkah nyata dalam memitigasi risiko banjir lokal.
Prinsip kerja biopori sebenarnya sangat sederhana, yakni menciptakan lubang vertikal ke dalam tanah yang kemudian diisi dengan material organik. Material ini berfungsi untuk memancing aktivitas fauna tanah seperti cacing yang nantinya akan menciptakan pori-pori alami di dalam lapisan tanah. Namun, KIR SMAN 9 Jogja membawa eksperimen ini ke level yang lebih teknis. Mereka melakukan pemetaan titik-titik rawan genangan dengan tingkat kemiringan tertentu, lalu menentukan densitas lubang yang dibutuhkan per meter persegi agar debit air hujan dapat terserap secara optimal ke dalam tanah.
Eksperimen ini tidak hanya melibatkan aspek teknis pembuatan lubang, tetapi juga mencakup pemantauan laju resapan selama beberapa bulan. Para siswa secara rutin mencatat waktu yang dibutuhkan oleh air hujan untuk benar-benar hilang dari permukaan tanah setelah diterapkan sistem biopori. Data yang terkumpul menunjukkan bahwa area yang telah dipasang biopori memiliki kemampuan resapan yang jauh lebih tinggi dibandingkan area kontrol yang dibiarkan tanpa intervensi. Hasil empiris ini menjadi dasar argumentasi mereka saat mensosialisasikan pentingnya teknologi ini kepada warga di pemukiman padat.
Selain fungsinya sebagai pengendali banjir, para siswa juga mengedukasi warga bahwa lubang biopori dapat berfungsi sebagai “pabrik” pupuk mandiri. Material organik yang dimasukkan ke dalam lubang akan terurai oleh mikroorganisme dan menghasilkan kompos berkualitas tinggi yang bisa dipanen setiap beberapa bulan sekali. Ini adalah konsep simbiosis mutualisme antara kebutuhan lahan terhadap air dan kebutuhan tanaman terhadap nutrisi. Warga pun menjadi lebih antusias karena mereka tidak hanya mendapatkan perlindungan dari genangan, tetapi juga manfaat ekonomi dan ekologis bagi pekarangan rumah mereka sendiri.