Fenomena Ghosting Tugas: Mengapa Murid Makin Malas di Era Serba AI?

Munculnya Fenomena “Ghosting” Tugas di kalangan pelajar saat ini menjadi tantangan serius bagi efektivitas proses pembelajaran di sekolah maupun perguruan tinggi. Istilah yang biasanya digunakan dalam hubungan asmara ini kini diserap ke dunia pendidikan untuk menggambarkan perilaku siswa yang tiba-tiba “menghilang” saat tenggat waktu pengumpulan tugas tiba, tidak memberikan kabar, atau sengaja mengabaikan instruksi guru meskipun mereka aktif di media sosial. Ironisnya, perilaku ini justru semakin meningkat di tengah kemudahan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang seharusnya memudahkan pekerjaan mereka.

Ada dugaan kuat bahwa Fenomena “Ghosting” Tugas ini dipicu oleh ketergantungan yang berlebihan pada alat-alat instan. Siswa merasa bahwa mereka bisa menyelesaikan tugas apa pun dalam hitungan detik menggunakan bantuan AI, sehingga mereka cenderung menunda-nunda pekerjaan (prokrastinasi) hingga saat terakhir. Namun, ketika mereka mendapati bahwa tugas tersebut memerlukan analisis yang lebih dalam atau instruksi yang tidak bisa dijawab sepenuhnya oleh mesin, mereka merasa kewalahan dan akhirnya memilih untuk tidak mengumpulkan tugas sama sekali karena malu atau takut salah.

Selain itu, Fenomena “Ghosting” Tugas mencerminkan menurunnya rasa tanggung jawab dan daya juang (grit) pada generasi saat ini. Kemudahan akses informasi membuat proses belajar yang menuntut ketekunan terasa membosankan. Banyak murid menganggap bahwa tugas sekolah hanyalah formalitas administratif, bukan sarana untuk mengasah kemampuan berpikir kritis. Akibatnya, ketika motivasi intrinsik mereka rendah, tindakan menghilang dari tanggung jawab dianggap sebagai jalan pintas untuk menghindari tekanan stres jangka pendek, tanpa memikirkan dampak jangka panjang terhadap nilai dan pemahaman mereka.

Untuk mengatasi Fenomena “Ghosting” Tugas, para pendidik perlu mengubah strategi dalam memberikan penugasan. Tugas yang bersifat hafalan atau sekadar mencari informasi yang sudah tersedia di internet kini sudah tidak relevan karena mudah dikerjakan oleh AI. Guru harus memberikan tugas yang bersifat reflektif, berbasis proyek nyata, atau membutuhkan presentasi lisan yang menunjukkan pemahaman orisinal siswa. Dengan membuat proses belajar menjadi lebih bermakna dan personal, siswa akan merasa lebih terlibat secara emosional dan merasa memiliki tanggung jawab lebih besar untuk menyelesaikannya tepat waktu.