Masa remaja adalah fase transisi yang penuh gejolak, di mana pencarian jati diri menjadi agenda utama setiap individu. Di lingkungan pendidikan seperti SMAN 9 Jogja, fenomena ini sering kali bermanifestasi dalam berbagai bentuk perilaku sosial, baik yang positif maupun negatif. Salah satu isu yang paling memprihatinkan adalah ketika proses pencarian jati diri tersebut bersinggungan dengan krisis identitas, yang pada akhirnya mendorong seorang siswa untuk melakukan tindakan perundungan atau mem-bully teman sebayanya. Memahami akar permasalahan ini sangat krusial agar solusi yang diberikan tidak hanya bersifat permukaan.
Secara psikologis, masa pubertas membawa perubahan hormonal dan emosional yang signifikan. Siswa cenderung merasa perlu diakui, memiliki kekuasaan, atau sekadar ingin masuk ke dalam kelompok tertentu yang dianggap dominan. Di SMAN 9 Jogja, pengamatan menunjukkan bahwa perilaku mem-bully sering kali merupakan mekanisme pertahanan diri dari rasa rendah diri yang tersembunyi. Ketika seorang remaja merasa tidak aman dengan identitasnya sendiri, mereka cenderung menjatuhkan orang lain untuk merasa lebih kuat atau lebih unggul. Inilah paradoks dari pertumbuhan mental yang tidak terarah dengan baik di sekolah.
Lingkungan sosial di Jogja yang dikenal kental dengan nilai-nilai kesantunan terkadang membuat isu perundungan ini tertutup rapat di bawah permukaan. Siswa yang mengalami krisis identitas mungkin merasa tertekan oleh ekspektasi lingkungan, baik dari orang tua maupun standar sosial di sekolah. Akibatnya, tekanan tersebut dilampiaskan kepada siswa lain yang dianggap berbeda atau lebih lemah. Tindakan mem-bully menjadi semacam katarsis instan bagi pelaku untuk melepaskan rasa frustrasinya, meskipun hal tersebut merusak tatanan harmoni dan kesehatan mental korban secara permanen.
Pihak sekolah dan guru bimbingan konseling di SMAN 9 Jogja kini mulai menggeser fokus mereka. Pendekatan yang dilakukan tidak lagi hanya sekadar memberikan hukuman fisik atau teguran keras, melainkan dengan melakukan dialog mendalam mengenai fase pubertas. Siswa diajak untuk mengenali emosi mereka sendiri dan memahami bahwa keunikan individu bukanlah ancaman bagi orang lain. Program-program pengembangan diri dan literasi emosi menjadi sangat penting untuk membantu siswa melewati masa-masa sulit ini tanpa harus menyakiti orang di sekitar mereka.