Lebih dari Sekadar Angka: Memahami Sistem Penilaian Kurikulum Merdeka

Dalam dinamika pendidikan yang terus berevolusi, Kurikulum Merdeka hadir membawa angin segar, termasuk dalam pendekatan penilaian. Sistem penilaian di Kurikulum Merdeka tidak lagi semata-mata berfokus pada angka akhir, melainkan menitikberatkan pada proses dan perkembangan kompetensi siswa secara holistik. Untuk orang tua dan pelajar, memahami sistem penilaian ini menjadi krusial agar dapat sepenuhnya mengapresiasi tujuan dan manfaatnya yang lebih luas.

Salah satu ciri utama dalam memahami sistem penilaian Kurikulum Merdeka adalah adanya asesmen formatif yang lebih dominan daripada asesmen sumatif. Asesmen formatif dilakukan sepanjang proses pembelajaran, misalnya melalui observasi guru saat siswa berdiskusi, kuis singkat tanpa nilai, atau feedback terhadap proyek yang sedang berjalan. Tujuannya adalah untuk memantau perkembangan siswa, mengidentifikasi kesulitan belajar sejak dini, dan memberikan umpan balik konstruktif agar siswa dapat memperbaiki diri. Ini berbeda dengan sistem lama yang cenderung menumpuk penilaian di akhir periode. Contohnya, pada pelajaran Sejarah di SMA Merdeka Jaya pada tanggal 10 Juni 2025, guru tidak hanya menilai hasil akhir presentasi siswa tetapi juga proses riset dan kolaborasi kelompok selama seminggu sebelumnya.

Asesmen sumatif tetap ada, namun porsinya tidak lagi menjadi satu-satunya penentu kelulusan atau kenaikan kelas. Asesmen sumatif dilakukan di akhir lingkup materi atau akhir semester untuk mengukur capaian pembelajaran siswa secara keseluruhan. Bentuknya bisa beragam, mulai dari ujian tertulis, proyek akhir, hingga presentasi. Namun, nilai dari asesmen sumatif ini diinterpretasikan bersama dengan data asesmen formatif dan observasi guru untuk memberikan gambaran yang lebih utuh tentang capaian siswa.

Memahami sistem penilaian ini juga berarti mengapresiasi pentingnya rapor yang lebih deskriptif. Rapor di Kurikulum Merdeka cenderung memberikan uraian naratif tentang capaian kompetensi siswa, termasuk kekuatan, area yang perlu ditingkatkan, dan rekomendasi tindak lanjut. Ini memberikan gambaran yang lebih kaya tentang perkembangan belajar siswa dibandingkan hanya sekumpulan angka. Seorang kepala sekolah di SMA Harapan Bangsa, Bapak Ahmad Dahlan, dalam pertemuan orang tua siswa pada hari Sabtu, 22 Juni 2025, menjelaskan bahwa rapor baru ini bertujuan agar orang tua lebih memahami perjalanan belajar anak, bukan hanya hasil akhirnya.

Terakhir, memahami sistem penilaian di Kurikulum Merdeka juga melibatkan aspek non-akademik, seperti perkembangan karakter. Melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), guru mengamati dan menilai bagaimana siswa mengembangkan nilai-nilai seperti gotong royong, bernalar kritis, atau kreatif. Hasil observasi ini juga terintegrasi dalam laporan kemajuan siswa, mencerminkan bahwa pendidikan bukan hanya tentang kognitif tetapi juga pembentukan karakter. Dengan demikian, sistem penilaian ini berupaya memberikan gambaran yang lebih adil dan komprehensif tentang potensi dan perkembangan setiap siswa.